DON’T GO (Chapter 2)

dont go

Tittle : Don’t Go
Author : @desywlndr
Main cast : Oh Sehun, Kim Ha Na
Support cast : Oh Luhan
Genre : Sad, hurt
Backsound : Taeyeon – Set me free
Lee Min Ho – My everything
Blueberry – My Lover, My Fate

Sebelumnya~

“Oh Sehun!!”
“Sehun!!!!” Luhan menggoyang-goyangkan badan Sehun lagi. Tapi, tetap saja Sehun tidak bergerak.
Luhan mulai cemas dan memperhatikan wajah Sehun “Wajahnya pucat”
“Oh sial!!!~” umpatnya.

Selanjutnya~ Happy reading^^

Lalu, segera mengambil telepon di atas meja kecil di samping tempat tidur Sehun. Ia hendak menghubungi seseorang.
“Yeoboseyo!! Dokter Lee cepat datang kerumah. Sehun tidak sadarkan diri lagi” teriak Luhan di telepon. Dia benar-benar sangat cemas.
Author POV end

Luhan POV
Sudah berkali-kali aku bolak balik ke rumah sakit. Bau obat-obatan sudah terbiasa tercium di hidungku. Sebenarnya aku tidak menyukai rumah sakit. Tapi ini demi adikku. Aku harus terbiasa mengunjungi tempat ini.
Dia kembali masuk rumah sakit. Ini ketujuh kalinya dia masuk rumah sakit. Dia memiliki penyakit kanker paru-paru stadium akhir. Dari sejak kecil ia sudah mengidapnya. Awalnya hanya sakit paru-paru biasa. Namun seiring berjalannya waktu di tambah dengan kesehatan Sehun yang semakin lemah. Penyakit itu berhasil menggerogotinya. Januari yang lalu ia sempat di vonis dokter jika hidupnya tidak lama lagi. Ia hanya bisa bertahan lima bulan lagi. Dan sekarang adalah bulan Juni, aku harap bulan Juni bukan bulan terakhirnya.
Aku, eomma, dan appa sedang menunggu dokter memeriksa Sehun di dalam. Dokter Lee -dokter pribadi Sehun- mengatakan Sehun harus di rawat di rumah sakit. Aku mondar-mandir di depan kamar Sehun di periksa. Sedangkan eomma menangis di pelukan appa. Sudah dua jam aku menunggu. Tapi dokter belum juga keluar.
Aku melihat Dokter Lee keluar dari kamar. Appa, eomma, dan aku segera mengerubunginya.
“Bagaimana keadaan Sehun?? Dokter Lee?!” tanya appa khawatir.
“Keadannya sudah sangat kritis dari yang terakhir saya periksa. Maafkan aku Tuan Oh” Jawab dokter Lee menundukkan kepalanya.
“Mengapa bisa seperti itu Dok?” tanya eomma.
Dokter Lee mengangkat wajahnya, “Nyonya Oh, apakah Sehun tidak pernah meminum obatnya?” tanya Dokter Lee. Aku kaget mendengarnya.
“Obat? Dia selalu meminumnya ketika selesai makan” jawab eomma.
“Benar Dok, ada apa memangnya?” tanya ku.
“Sepertinya Sehun tidak benar-benar meminum obatnya. Tadi aku memeriksa di dalam tubuhnya bahwa tidak ada bekas obat masuk ke dalam tubuhnya. Bisa saja ia langsung memuntahkannya” jelas Dokter Lee.
“Itu tidak mungkin Dok, aku melihatnya sendiri Sehun meminumnya!!”
“Apakah setelah itu, dia langsung pergi ke toilet?” ucap Dokter Lee membuatku berpikir. Bagaimana ia bisa tahu?
Aku mengangguk “Setelah makan ia memang selalu seperti itu. Pergi ke toilet dengan alasan perutnya sakit” jelasku.
“Sepertinya Sehun telah membohongi kalian. Aku permisi dulu. Kalian boleh masuk menjenguknya” jawab Dokter Lee sambil berjalan meninggalkan kami.
Aku tidak percaya apa yang di katakan Dokter Lee barusan. Tapi, yang di katakannya semuanya benar. Aku tidak menyangka, mengapa Sehun melakukan itu.
Eomma dan appa masuk menjenguk Sehun. Dia sudah sadar. Aku biarkan eomma dan appa berbincang dahulu. Setelah itu, aku akan memarahi Sehun dan meminta penjelasan.
“Sehunni~ apa kau sudah merasa baikkan?” tanya eomma khawatir sambil menggenggam tangan Sehun.
Sehun tersenyum “Eomma tidak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja”
“Appa senang mendengarnya” jawab appa sambil mengacak-acak rambut Sehun.
“Eomma dan appa sebaiknya pulang. Kalian terlihat sangat lelah. Aku akan disini bersama Luhan hyung” kata Sehun menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum.
“Baiklah Sehunni~ Luhan-ah, kau jaga adikmu, ne?” ucap appa pergi meninggalkan kami.
“Hati-hati di jalan eomma-appa” ucap Sehun sambil melambaikan tangannya.

Luhan POV end

Bahkan manakala
Ku tak dapat merangkulmu, mendekapmu
Cinta tetaplah dirimu

Sehun POV
Luhan hyung mendekatiku dan duduk di kursi sebelah ranjangku. Dia tersenyum, tapi wajahnya terlihat meminta penjelasan tentang yang telah aku lakukan selama ini. Aku bisa menebaknya,
“Aku tahu apa yang ingin kau katakan Luhan hyung” ucapku sambil mengubah posisiku untuk duduk.
“Alasanku memuntahkan obat itu adalah….percuma saja aku meminum obat itu hyung, tidak akan ada yang berubah. Akhirnya aku akan mati juga” ucap ku menahan air mata yang sudah tertampung.
Wajah Luhan hyung memerah, “Tapi itu akan membuatmu lebih bertahan Sehun-ah!!!” jawab luhan hyung berteriak.
“Itu sama saja membunuhku secara perlahan-lahan hyung. Aku tidak bisa terus menahan rasa sakit ini, rasa sakit di tubuhku dan di kepalaku ini hyung. Asal kau tahu hyung, INI SANGAT SAKIT!!!” ucapku berteriak.
Aku melihat matanya, dia menangis “Aku ingin segera mati saja hyung. Agar rasa sakit ini tidak terasa lagi” lanjutku, suaraku kali ini pelan. Tiba-tiba air mataku sudah keluar. Aku tidak bisa menahannya lagi.
Luhan hyung langsung memelukku “Andai aku bisa merasakan rasa sakitmu itu Sehunni. Aku rela kau bagi rasa sakitmu itu kepadaku” Luhan hyung menangis. Aku hanya bisa membalas pelukannya.
Dokter Lee sudah memvonisku bulan Januari lalu. Bahwa aku akan segera menemui ajalku. Aku hanya bisa bertahan lima bulan, dan itu adalah bulan Juni ini. Aku tidak menyangka jika umurku sangat sependek ini. Aku akan pergi untuk selamanya meninggalkan orang-orang yang aku sangat sayangi. Terutama Ha Na.

Sehun POV end
5 hari kemudian
Author POV
Ha Na berusia duduk di salah satu kursi kafe. Ia menggunakan tangan kanannya untuk menyangga wajahnya, sedangkan tangan kirinya, ia gunakan untuk mengaduk-aduk jus alpukat yang sudah ia pesan sekitar 1 jam yang lalu.
“Huft….” Ia mengembungkan pipinya karena bosan.
Menunggu adalah sesuatu yang paling ia benci. Dan sekarang ia sedang menunggu kedatangan calon kakak iparnya yang kurang lebih satu setengah jam lalu menghubunginya untuk segera bertemu, tapi hampir 1 jam lebih ia menunggu, orang itu masih belum menujukan tanda-tanda kedatangannya.
“Ha Na-ah!!” teriak Luhan dengan nafas tersengal-sengal menghampiri Ha Na.
“Yakk!! Luhan oppa, darimana saja kau? Aku sudah lama menunggumu!!” balas Ha Na dengan ketus sedangkan Luhan, hanya tersenyum.
“Hehehe…. Mian Ha Na-ah, aku terjebak macet”
“Hhhhh… sudahlah. Apa yang mau oppa bicarakan?” ucap Ha Na tanpa minat.
“Aku ingin bertanya dulu. Kemana Sehun? Sudah lima hari, dia tidak menghubungiku, ponselnya juga tidak aktif? Aku main ke rumahmu juga, kata pelayan di rumah Sehun dan Oppa, kalian sedang tidak di rumah” tanya Ha Na bertubi-tubi.
Luhan menghembuskan napasnya, “Hal itu yang mau ku beri tahu Ha Na-ah. Kemana Sehun selama lima hari ini”
Wajah Luhan berubah menjadi serius. Dia menengokan kepalanya ke kanan dan kekiri memastikan tak akan ada yang mendengar percakapannya. Setelah dirasa aman dia mendekatkan wajahnya ke arah Ha Na dan membisikan sesuatu.
“Sehun.. Ia sakit” bisik Luhan.
Ha Na kaget mendengarnya, “Sakit???? Dia sakit apa?” tanya Ha Na penasaran.
Luhan menceritakan semua yang terjadi kepada Sehun. Ha Na mendengarnya dengan serius dan wajahnya sudah di penuhi dengan air mata. Dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda ia tidak percaya dengan semua yang Luhan katakan.
“Tidak. Oppa hanya bercanda kan?” tanya Ha Na tidak percaya.
“Aku sedang tidak bercanda Ha Na-ah. Aku berbicara dengan sesungguhnya dan semua ini adalah kenyataan yang harus kau terima Ha Na”
“Dia tidak pernah terlihat sakit di depanku oppa. Dia selalu baik-baik saja. Hanya saja….wajahnya akhir-akhir ini terlihat pucat dan selalu berkeringat” Ha Na menundukkan kepalanya.
“Ha Na-ah jangan beritahu Sehun, jika yang memberitahu ini adalah aku. Sebelumnya, aku sudah berjanji kepadanya aku tidak akan menceritakan ini kepadamu. Tapi, ini demi kebaikan hubungan kalian. Aku mengingkari janjinya”
“Dan…satu lagi Ha Na-ah, kau harus berpura-pura tidak tahu akan hal ini. Aku takut Sehun kehilangan senyumnya saat bertemu denganmu Ha Na. Jika di wajahmu hanya terlihat kesedihan. Aku mohon” Luhan memohon kepada Ha Na.
“Baiklah oppa. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Terimakasih sudah memberitahuku” ucap Ha Na.
“Kalau begitu, aku pergi dulu Ha Na. Sampai jumpa” Luhan tersenyum.
“Sampai jumpa oppa” Ha Na tersenyum terpaksa.
Ha Na lalu meninggalkan kefe tersebut. Dia ingin sendiri dulu. Setelah itu, ia ingin bertemu dengan Sehun.

Author POV end
Kim Ha Na POV
Sejak Luhan oppa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun, aku merasa seperti setengah nyawaku pergi. Sejak hari itu, aku menjadi tidak nafsu makan, dan aku selalu mengurung diri di kamar. Tapi, hari ini aku harus bersikap seperti biasa, ceria dan tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahku. Hari ini Sehun mengajakku bertemu. Dia ingin mengajakku berjalan-jalan. Aku sempat menolak ajakannya, karena aku tahu kondisinya yang lemah. Tapi, dia keras kepala. Kalau sudah begitu, aku harus tetap menerima ajakannya.
Aku dan Sehun janjian bertemu di mall. Saat aku menunggunya, tiba-tiba ada yng memanggilku. “Kim Ha Na” aku menengok, ternyata Sehun yang memanggilku. Suara bassnya sangat merdu dan lembut. Aku harap, aku bisa terus mendengar suara ini selamanya.
Aku baru sadar jika Sehun ternyata sangat tampan.Alisnya tebal, mata onyxnya(?) yang berwarna hitam legam membuat tatapannya terlihat tajam namun teduh, hidungnya yang mancung, bibir pink nya yang tipis namun sekarang sudah pucat? dan rambut kecoklatan itu sangat pas dengan kulitnya yang seputih susu nyaris pucat.
Aku tersenyum melihatnya, “Yak! Oh Sehun kemana saja kau akhir-akhir ini? Kau tidak menghubungiku, ponselmu juga tidak aktif. Aku datang kerumahmu, tapi pelayan rumahmu bilang bahwa kau sedang pergi. Kau membuatku khawatir Oh Sehun!!” kataku cerewet.
“Aku pergi karena ada urusan penting Kim Ha Na. Maafkan aku jika aku membuatmu khawatir” jawabnya. Oh tidak. Mata tajamnya itu berubah menjadi teduh, aku tidak boleh menangis.
“Okey….Aku maafkan. Tapi kau harus mentraktirku es krim. Sudah lama kita tidak makan es krim bersama kan Sehun-ah?” aku tidak bisa terus berakting seperti ini.
Dia tersenyum sambil mengaitkan jari-jari tangan kanannya ke tangan kiriku. Kami sedang bergandengan tangan. “Aku akan mentraktirmu es kim sampai kau puas Ha Na, haha. Kajja!” dia menarik tanganku dan segera pergi ke kedai es kris yang terdapat di mall ini.
“Ahjussi, tolong dua es krim coklat dan vanila” ucap Sehun. Dia sudah tahu rasa apa yang aku ingin pesan. Aku hanya diam memperhatikannya.
“Ini es krimnya anak muda. Silahkan di nikmati” ucap ahjussi penjual es krim itu. Sehun menerimanya dan segera duduk di bangku dekat jendela.
Aku menikmati es krim ini “Ini sangat enak” ucapku. Tapi Sehun hanya melihat ke arah luar jendela. Dia tidak memakan eskrim coklatnya itu.
“Sehun, mengapa kau tidak memakan es krimnya. Ini sangat enak” dia menengok tersenyum.
“Aku kenyang saat melihatmu makan es krim vanila itu Ha Na-ya” dia menolak. Aku tahu alasannya menolak.
“Lihat!! di pipimu penuh dengan es kris vanila, hahahahahah kau seperti anak kecil” Sehun tertawa. Tawa yang di paksakan. Tapi aku senang melihatnya tertawa seperti itu. Tiba-tiba tangannya mendekati pipiku dan mengambil es krim yang terdapat di pipiku.
“Nah, sekarang pipimu sudah bersih” dia tersenyum. Aku malu. Sepertinya pipiku merah.
“Kau malu ya? Pipimu berubah jadi merah. hahahaha”
“Siapa yang malu wleee” aku menjulurkan lidahku, dan Sehun hanya tertawa.

Setelah makan es krim, kami pergi ke taman. Kami duduk di bangku taman di bawah pohon besar yang teduh. Sekarang sudah sore hari, tapi taman terlihat sepi. Tidak ada siapapun disini, hanya kami berdua.
“Ha Na, aku mencintaimu” aku terkejut mengapa tiba-tiba dia bilang begitu.
“Kau mencintaiku juga kan?” tanyanya.
“Tentu saja, aku Kim Ha Na mencintai Oh Sehun dengan tulus” ucapku lantang. Dia hanya tertawa dan mengacak rambutku.
“Mengapa kau tiba-tiba menanyakan seperti itu?” tanyaku.
“Aku hanya takut” jawabnya.
“Takut apa?”
“Takut kau meninggalkanku” jawab Sehun. Ucapan Sehun membuatku diam, aku yang seharusnya takut, aku takut kau meninggalkanku.

“Sehun” panggilku.
“Hemm” dia hanya berdehem.
“Kau tidak lupa kan besok?” tanyaku.
“Apa?” ucapnya bingung.
“Kau lupa? Besok kau berjanji akan melihatku bernyanyi”
Dia terlihat berpikir “Ah~ pertunjukanmu? Tentu saja aku akan datang” ucapnya sambil tersenyum. Tapi dia terlihat sangat pucat.
“Aku tunggu kau Sehun” aku melihat ke arah depan.
“Sehun, kau tahu ada yang bilang padaku bahwa kenyataan itu susah untuk di terima. Waktu itu aku sempat tidak setuju dengan perkataannya. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku setuju dengan apa yang ia bilang. Karena kenyataan itu sedang aku rasakan saat ini”
“Menurutmu bagaimana?” tanyaku pada Sehun.
“…..” dia diam.
“Sehun” aku menoleh dan melihatnya sedang memejamkan matanya.
“…..” dia tetap diam.
“Oh Sehun. Jika kau mengantuk, lebih baik kita pulang. Biar aku yang menyetir mobilnya” ucapku sambil menggoyang-goyangkan badannya. Aku takut.
“…..” tapi dia tetap diam bahkan tidak bergerak sama sekali.
Aku menempelkan telingaku ke dadanya untuk mengecek detak jantungnya, tapi aku tidak mendengar detak jantungnya. Aku menangis. Aku tidak bisa menahan air mata ini lagi. Apakah ini terakhir kalinya aku bisa melihatmu Sehun. Apa itu terakhir kalinya kau mengatakan mencintaiku? Aku berharap ini hanya mimpi burukku. Jika ini memang mimpi buruk aku ingin segera bangun. Aku tidak ingin terjebak dalam mimpi buruk ini. Aku tidak mau kehilanganmu Sehun. Aku tidak mau menerima kenyataan yang sakit ini. Oh Sehun, mengapa kau meniggalkanku secepat ini?
“Kau penasaran bukan ingin melihatku bernyanyi?” aku menangis.
“Jika kau penasaran, buka matamu Sehun!! Bangun!! Aku akan menyanyi di depanmu saat ini juga. Asal kau bangun!!!!!” air mataku sudah membasahi kemejanya. Aku memeluknya. Aku tidak ingin kehilangannya. Tapi yang kulakukan percuma saja. Setiap nyawa yang sudah di ambil oleh Tuhan, tidak bisa di ambil kembali.

Ha Na POV end

Kuharap kerinduanku
Yang tersembunyi di balik sinar matahari
Bisa ku utarakan padamu

Luhan POV
Di hari yang cerah ini, seharusnya di isi dengan kegembiraan. Namun berbeda dengan orang-orang yang memakai baju hitam ini, sama sepertiku. Wajah mereka di penuhi dengan kesedihan. Kepedihan yang di rasakan oleh mereka karena kehilangan orang yang sangat mereka sayangi, orang yang aku sayangi.
“Sehunni~ mengapa kau meninggalkan eomma secepat ini nak?” tangis eomma sambil mengelus-ngelus batu nisan yang sengaja di tancapkan di atas gundukan tanah itu.
“Seharusnya appa yang pergi menggantikanmu di sana Sehun-ah. Kau masih terlalu muda. Biarkan appamu yang tua ini menggantikanmu pergi nak” appa juga menangis. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat appa menangis. Appa sangat terpukul atas kehilangan Sehun.
Sedangkan Ha Na -kekasih Sehun- hanya diam. Aku takut dia mengalami stress berat.

Hanya tinggal aku dan Ha Na yang berada di pemakaman ini. Eomma dan appa serta kerabat-kerabatku sudah pulang satu jam yang lalu.
“Sehun-ah, kau pergi tidak bilang padaku dulu. Padahal aku bisa menemanimu disana. Aku takkan membiarkanmu kesepian disana. Tapi, kau jahat Oh Sehun. Kau pergi tanpa pamit, tanpa mengajakku” air mataku sudah mulai keluar.
“Mengapa harus kau Oh Sehun, adik kecilku yang manis. Yang mengidap penyakit busuk itu. Kenapa bukan aku saja. Aku tidak tega melihatmu menahan rasa sakitmu terus menerus Sehun-ah. Mengapa Tuhan tidak adil kepadamu”
“Kau yang seharusnya masih memiliki masa depan, sekarang tidak ada masa depan itu lagi karena penyakit busukmu itu yang terus menggerogoti tubuhmu. Andai aku punya dua nyawa, aku rela membagimu satu nyawa ku yang lain Sehun. Maafkan aku, tidak bisa menjadi hyung baik bagimu. Maafkan aku Sehunni~” aku menangis. Menangis sesenggukan. Aku belum bisa menerima kepergian Sehun secepat itu.
“Sehun” kini giliran Ha Na.
“Sejak gerimis itu aku sudah mulai curiga padamu. Kau mengatakan hal-hal aneh. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Itu adalah kesalah terbesarku. Mengapa tidak peka saat kau mengatakan hal-hal aneh itu padaku”
“Malam ini kau berjanji akan melihat ku bernyanyi kan Oh Sehun? Penuhilah janjimu itu” ucap Ha Na dan langsung berdiri.
Dia segera pergi dari makam Sehun. Aku tahu, dia sama sepertiku. Belum bisa menerima kenyataan yang sakit ini. Dia tidak mau terlalu jatuh dalam kesedihan. Tapi, aku yakin hatinya sedang menangis. Walaupun di wajahnya tidak sedang menunjukkan air matanya. Dia berpura-pura kuat.
Ha Na mengendarai mobilnya sendiri. Dia pulang, aku pun juga pulang.

Luhan POV end

Sehun POV
Pemandangan pertama yang kulihat saat membuka mata adalah padang rumput dengan ilalang tumbuh hingga sebatas pinggang orang dewasa. Di padang rumput ilalang ini juga tumbuh bunga matahari yang sangat indah. Ada kolam ikan juga yang di atasnya ada sebuah jembatan kecil. Aku agak terkejut saat menyadari keberadaanku yang duduk dibangku kayu putih di bawah pohon yang tak terlalu tinggi dan rindang.
Apa aku tertidur di sini? Ah, tidak mungkin! Aku masih bisa mengingat dengan jelas saat aku duduk bersama Ha Na di taman. Lalu apa aku tidur sambil berjalan? Ah, itu semakin tak mungkin. Mana mungkin aku tidur dan berjalan ke tempat yang kurasa sangat jauh dari perkotaan ini. Dan mengapa aku berganti pakaian? Seingatku aku memakai kemeja biru muda dan celana jeans. Tapi ini, jas putih dan celana bahan putih. Ini aneh.
Aku mengedarkan pandangan sambil bertanya-tanya dimana aku sekarang? Apa aku ada di surga? Jika ini surga, berarti aku sudah…….meninggal. Aku menangis mengingat itu semua. Mengapa secepat ini aku meninggalkan Ha Na. Padahal aku sudah berjanji akan melihat dia bernyanyi.
Aku mendengar suara Ha Na menangis. Dia menangis sangat terpukul. Aku mencari ke sekeliling tempat ini, namun tidak ada siapapun selain aku seorang. Tidak lama, aku mendengar eomma dan appa menangis. Mereka menangisiku. Ternyata aku benar-benar sudah meninggal.
Aku berjalan-jalan di padang ilalang ini. Tapi, aku seperti mendengar Luhan hyung sedang menangisiku sambil menyebut namaku. Aku juga mendengar suara Ha Na, sepertinya dia menahan tangisnya. Hahh..Aku banyak membuat orang menangis. Maafkan aku eomma, appa, Luhan hyung, Ha Na.

Aku kembali ke bangku kayu putih itu dan melihat seorang laki-laki.
“Aku mengizinkanmu untuk pergi melihat kekasihmu itu bernyanyi dulu. Setelah itu kau kembali dan segeralah ikut aku” aku bingung, bagaimana dia bisa tahu jika aku ingin melihat Ha Na bernyanyi, apakah dia mendengar tadi?. Tapi bagaimana caranya aku pergi ke sekolah Ha Na sedangkan di sini hanya terdapat ilalang saja.
“Pejamkan saja matamu, setelah tiga detik kau boleh membuka matamu” kata laki-laki itu lagi. Langsung saja aku mengikuti perintahnya. Aku memejamkan mata dan menghitung tiga detik dalam hati.
‘Satu….dua….tiga’ setelah menghitung, aku membuka mata dan
Tiba-tiba aku sudah berada di sekolah Ha Na. Dia sedang bersiap-siap untuk bernyanyi. Aku melihat matanya sembab. Dia pasti menangis karena aku. Aku duduk di bangku penonton dan anehnya aku bisa di lihat oleh orang lain, dan pakaian ku juga sudah ganti.

Ha Na mulai menyanyi.

Saramdeuri uri darmaboinde
Saranghamyeon da darmaganabwa
Utneunmoseupbuteo sasohan maltukkaji
Urin manhi darmasseo

Dia mengedarkan pandangannya. Sepertinya dia mencariku. Aku hanya diam. Tapi setelah itu, dia melihat ke arahku. Dan segera turun dari panggung. Dia mendatangiku di bangku penonton. Penonton hanya diam mendengarkan dia bernyanyi. Ha Na menatapku, matanya mengeluarkan air matanya….. lagi.

Neon nae einiya

Tangan kanan Ha Na menyentuh wajahku, sedangkan tangan kirinya memegang mic. Dia terus saja menyanyi sambil mengeluarkan air matanya.

Neon nae sarangiya
Neon nae unmyeongiya
Modeunge
Gijeongman gata
Ni dusonkkokjapgo georeullae
Ni dununbomyeonseo malhallae
Neoman isseumyeon nanjoha
My love

Setelah ia mengakhiri syair lagunya, dia langsung memelukku. Dan aku balas memeluknya. Dia menangis. Penonton bertepuk tangan dengan meriah, mereka semua tersenyum. Tapi, tidak dengan Kim Ha Na. Dia…menangis.
“Aku merindukanmu Sehun. Jangan pergi lagi aku mohon” kata Ha Na memohon sambil menangis.
“Sehun kau harus pergi sekarang” aku mendengar suara laki-laki yang aku temui di padang ilalang itu.
“Maafkan aku Ha Na, aku harus pergi” sebenarnya aku sangat tidak tega meninggalkannya pergi untuk selamanya. Tapi ini adalah takdir. Aku tidak bisa melawan takdir.
“Sampai jumpa Kim Ha Na. Aku mencintaimu. Carilah pengganti diriku” ucap ku. Dan itu adalah kata terakhirku untuk Ha Na. Aku berharap dia bahagia bersama orang lain.

Sehun POV end

Ha Na sangat terkejut saat orang yang di peluknya tiba-tiba menghilang. Setelah itu dia pingsan dan di bawa ke belakang panggung.
Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Itu semua sudah di takdirkan oleh Tuhan kita hanya bisa menerimanya dengan lapang dada.

~END~

Gimana pendapat kalian tentang ff pertamaku?? 😀 hehehe

makasih ya udah mau baca, kalo bisa tinggalin jejak kalian ya readers ^^ komentarin tentang ff aku 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s